Mengenal Syeikh Idris Al-Marbawi





As-Syeikh Muhammad Idris Al-Marbawi
Nama sebenar beliau ialah Muhammad Idris bin Abdul Rauf.Di nisbahkan Marbawi kepada namanya,bersempena dengan tempat asalnya,Merbau.Beliau dilahirkan pada 28 DzulQa'idah 1313/1892,di Makkah.

Pendidikan.
Mendapat pendidkan awal di Sekolah Melayu Lubuk Merbau,Perak.
Setelah itu beliau melanjutkan pelajaran ke Pondok Syeikh Wan Muhammad di Bukit Chandan,Kuala Kangsar,Perak.Seterusnya beliau kembara menenuntut ilmu dengan pelbagai ulama'-ulama' di Kedah dan Patani,bahkan beliau juga sempat berguru dengan Tok Kenali di Pondok Tok Kenali,Kubang Kerian,Kelantan.1924,Beliau menyambung pelajarannya di al-Azhar dan merupakan anak Melayu pertama yang menuntut di Azhar.

Sumbangan dan Karya-Karya Beliau
Ketokohan beliau dalam bidang pendidikan dan penulisan amat dikagumi.Beliau telah dianugerahkan beberapa anugerah kehormat antaranya:

1)Ijazah Kehormat Doktor Persuratan daripada Universiti Kebangsaan Malaysia pada 1 Julai 1980

2)Tokoh Maal Hijrah Peringkat Kebangsaan 1Muharram 1408/1987.

Antara karya-karya beliau ialah:
1)Kamus Al-Marbawi
2)Kamus al-Jaib
3)Bahrul Maadzi
4)Bulughul Maraam
5)Tafsir al-Qur'an al-Marbawi
6)Tafsir Nur al-Qur'an
7)Usul Islam

dan banyak lagi karya-karya beliau
Beliau meninggal dunia pada pagi Jumaat.13 Oktober 1989.

رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Tokoh Yang Aku Kagumi.....

Samahatusy-Syeikh.Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Biografi

Nama beliau adalah: Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdul Aali Baz. Beliau dilahirkan di Riyadh, Arab Saudi pada tanggal 12 Dzulhijjah 1330 Hijriah. Pada mulanya beliau bisa melihat, kemudian pada tahun 1336 H, kedua matanya menderita sakit, dan mulai melemah hingga akhirnya pada bulan Muharram tahun 1350 H kedua matanya mulai buta.

Pendidikan

Sebagai putra seorang ulama' pendidikannya lebih banyak tertuju pada pelajaran Al-Qur'an dan Hadits dibawah bimbingan keluarganya. Kemudian

Beliau belajar ilmu-ilmu syar'i dari para ulama besar di Riyadh, diantaranya :

  • Syaikh Muhammad bin Abdullathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab,
  • Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab (qadhi (hakim) Riyadh),
  • Syaikh Sa’ad bin Hamd bin Faris bin ‘Athiq (qadhi Riyadh),
  • Syaikh Hamd bin Faris (wakil Baitul Mal Riyadh),
  • Syaikh Sa’ad Waqqash al-Bukhari (guru tajwid beliau pada tahun 1355 H),
  • Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullathif Aalu as-Syaikh (tempat beliau menimba berbagai macam disiplin ilmu Syari’at Islam mulai tahun 1347-1357 H).

Sifat Dermawannya.

Dermawan adalah di antara sifat yang dimiliki oleh para nabi ‘alaihimussalam. Begitu pula halnya nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan, makhluk yang paling memiliki sifat memberi, orang yang paling agung pemberiannya, dan manusia yang paling sempa dalam memberi, sehingga Jabir radhiallahu’anhu berkata:
Artinya: “Belum pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimintai sesuatu (kepadanya) kemudian beliau menjawab: ‘Tidak’.”
Dari Anas radhiallahu‘anhu beliau berkata:
Artinya: “Sesungguhnya seorang laki-laki telah meminta kambing (yang jumlahnya) memenuhi (lembah) antara dua gunung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau memberikannya kepada orang tersebut, lalu laki-laki itu datang menemui kaumnya dan berkata,’Wahai kaumku! Masuklah kamu sekalian ke dalam Islam, demi Allah! Sesungguhnya Muhammad akan memberikan suatu pemberian (bila kamu sekalian masuk Islam) dan dia tidak pernah takut miskin (karena memberi)”.
Shahih Muslim hadits no. 5975 [syarah Imam Nawawi cet. Dar al-Ma’rifah Beirut Tahun 1418 H/ 1997]

Disebutkan dalam “Imamul ‘Ashar ibnu Baz wa al-Albani” hal. 13, bahwa pernah seorang mujahid diutus menemui beliau (untuk meminta sumbangan), namun yang ada adalah sebuah benda yang sangat penting miliknya, maka beliau pun menjual barang tersebut dan memberikan hasil penjualannya kepada mujahid itu untuk dimanfaatkan di jalan Allah ‘Azza wa Jalla.

Beliau tidak mengizinkan bagi orang yang datang berkunjung kepadanya untuk permisi pergi, kecuali setelah makan siang atau makan malam bersamanya, istimewa apabila yang berkunjung itu adalah musafir atau datang sengaja dari daerah jauh. (Imamul ‘Ashar Dr. Nasir Zahrani hal. 99)

Berkata salah seorang sahabat karib as-Syaikh bin Baz yang beama Sa’ad bin Abdul Muhsin (orang ini lebih tua sepuluh tahun dari as-Syaikh bin Baz), “Dahulu ketika masa mudanya, beliau (Bin Baz) belajar dengan as-Syaikh al-‘Allaamah Muhammad bin Ibrahim rahimahullah. Apabila pulang dari belajar dan di jalan bertemu dengan seseorang penuntut ilmu atau orang yang merantau atau tamu ataupun tetangga, maka beliau berusaha sekuatnya untuk mengajak orang tersebut masuk ke rumahnya untuk makan bersamanya, padahal beliau adalah seorang yang miskin dan kurang persediaan makanan, hal ini terus-menerus berkelanjutan selama hidupnya, bahkan beliau merasa sedih apabila tidak ada seorang tamu pun yang menyertainya makan”.

Tiga tahun sebelum wafatnya beliau, setelah safar ke Mekkah dan kembali ke kota Thaaif, seperti biasanya beliau membuka pintu rumah dengan harapan agar orang-orang datang. Akan tetapi teyata tamu dan orang-orang fakir miskin tidak ada yang datang ke rumahnya (untuk makan bersamanya) karena kebanyakan mereka tidak mengetahui beliau telah kembali, serta-merta beliau pun berduka-cita sembari bertanya kepada orang-orang yang membantunya, “Apa hal yang terjadi pada orang-orang sehingga mereka tidak datang? Apakah kamu sekalian katakan bahwa saya capek (baru pulang), ataukah kamu sekalian pernah menutup pintu di hadapan mereka, atau adakah sebab lain?” Mereka menjawab, “Wahai Tuan Syaikh, kebanyakan mereka belum menetahui kalau Anda telah sampai dan sebagian yang lain ingin untuk beristirahat pada hari-hari raya pertama ini”. Beliau berkata, “Pergi beritahukan masyarakat, para tetangga bahwa syaikh mengundang kamu sekalian, dan rumahnya terbuka untuk anda sekalian”. (Imamul ‘Ashar Dr. Nasir Zahrani hal. 101)

Semua sejajar di sisinya:

Pernah suatu ketika sebagian orang datang menemui beliau dan berkata kepadanya, “Wahai Tuan Syaikh, ada sebagian orang berpangkat berpendapat bahwa ketika beliau duduk bersama orang-orang ketika makan siang atau makan malam dan lainnya, yang duduk menemui Tuan ada buruh, pegawai, ada Arab ada pula orang ‘ajam dan orang-orang miskin, bahkan ada pula orang-orang hitam; hal seperti ini membuat kurang enak di hati para penziarah dan tamu-tamu besar. Maksud kami bukanlah mengusulkan supaya Tuan tidak usah memberi orang-orang tersebut makan dan menutup pintu bagi mereka, akan tetapi alangkah baiknya kalau bagi mereka disediakan tempat makan dan minum tersendiri sedangkan Tuan dan orang-orang yang istimewa berada pada suatu tempat yang khusus pula”. Seketika itu muka syaikh langsung berubah, (muka tidak senang) karena mendengar ucapan orang tersebut, dan beliau berkata, “Miskin…miskin…(aduhai malangnya, aduhai malangnya), orang yang berpendapat seperti ini belum mengecap lezatnya bergaul dengan orang-orang miskin dan makan bersama orang-orang fakir, saya tidak akan meninggalkan kebiasaan ini dan saya tidak memiliki orang-orang istimewa. Bagi yang sanggup duduk bersama sya dengan ditemani oleh orang-orang fakir miskin itu silakan duduk, barangsiapa yang tidak betah, maka tidak ada paksaan”. (Imamul ‘Ashar Dr. Nasir Zahrani hal. 93)

Ibnu Baz sebagai bapak bagi orang miskin

Seorang miskin dengan pakaian ala kadaya yang berasal dari Afrika datang menanyakan beliau pada musim haji yang terakhir (musim haji sebelum beliau meninggal dunia). Orang tersebut bertanya, “Mana as-Syaikh Bin Baz?”, maka dikatakan kepada orang tersebut, bahwa beliau tidak sanggup pergi haji. Orang negro itu balik ditanya, “Anda mau apa?”, orang itu menjawab, “saya tidak menginginkan apa pun dari Anda, hanya saha saya adalah seorang miskin sedangkan as-Syaikh adalah bapak bagi orang-orang miskin”. (Imamul ‘Ashar Dr. Nasir Zahrani hal. 190)

Sebagai penutup kami merasa perlu menyampaikan bahwa riwayat-riwayat ini mungkin hanya seperseribu riwayat yang mengungkapkan tentang alangkah indahnya kehidupan beliau. Mudah-mudahan dalam kesempatan lain ada di antara saudara kita bersedia menggoreskan tintanya tentang keilmuan, ketakwaan, amanah, santunnya beliau dan lain-lainnya. Sehingga tersimpullah bagi kita yang pemula, “Kalau sekiranya Ibnu Baz seorang imam kaum Muslimin yang hidup seribu lima ratus tahun setelah Rasulullah wafat, maka bagaimana halnya dengan orang yang menurunkan warisan semua ilmu para ulama, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?, semoga Allah Ta’ala mengaruniakan pemahaman yang benar dan ketakwaan yang sempua kepada kita dan kepada seluruh kaum Muslimin, amin!

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.


Kerjayanya

Jabatan yang pernah beliau duduki

  • Qadhi (Hakim) di daerah al-Kharaj semenjak tahun 1357-1371 H,
  • Mengajar di Ma’had (Universitas)al ‘Ilmi di Riyadh pada tahun 1372 H dan fakultas Syari’ah di Riyadh setelah dibentuknya fakultas tersebut pada tahun 1373 H (dalam mata pelajaran ilmu fiqh, tauhid dan hadits, dan jabatan ini beliau tekuni sampai tahun 1380 H).
  • Pada tahun 1381 H ditunjuk sebagai wakil Rektor Universitas Islam Madinah hingga tahun 1390 H, diangkat menjadi Rektor Universitas tersebut pada tahun 1390 H setelah wafatnya as-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu as-Syaikh pada bulan Ramadhan 1389 H, kemudian beliau tetap memegang jabatan tersebut sampai tahun 1395 H.
  • Pada tanggal 14-10-1395 H keluar Surat Keputusan Kerajaan untuk mengangkatnya sebagai pimpinan umum untuk bagian Pembahasan Ilmiyah, Fatwa Dakwah dan Irsyad (kemudian tersebut berubah menjadi Mufti Umum Kerajaan setelah dibentuknya Kementrian Urusan Islam, Waqaf, Dakwah dan Irsyad pada tahun 1414 H).

Selain itu beliau menjabat sebagai anggota pada beberapa Majelis Islamiyah yang berskala internasional, seperti:

  • Anggota Perkumpulan Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi.
  • Kepala Badan Tetap Pembahasan Ilmiyah dan Fatwa pada lembaga di atas.
  • Anggota dan kepala majelis pendiri Rabithah Alam Islami.
  • Kepala pada Majma’ al-Fiqhi al-Islami yang berpusat di Makkah yang merupakan bagian dari Rabithah Alam Islami.
  • Anggota pada majelis tertinggi di Universitas Islam Madinah.
  • Anggota pada majelis tinggi Da’wah Islamiyah Kerajaan Arab Saudi.

Karya Karya Beliau

Karangan-karangan beliau, sebagian kecilnya antara lain:
  • Al-Fawaid al-Jalilah fi al-Mabahits al-Fardhiyah
  • At-Tahdzir minal Bida’
  • Al-‘Aqidah ash-Shahihah wamaa Yudhaadhuha
  • Al-Jihad fi Sabilillah
  • Ad-Da’watu Ilallah wa Akhlaaqu ad-Du’at
  • Al-Jawabul Mufid fi Hukmi at-Tashwiir
  • Wujuubu Tahkiimi Syar’illahi wa Nabdzu maa Khaalafahu
Kewafatannya
Beliau wafat pada subuh Kamis 27 Muharram 1420 H di kota Thaif, dishalatkan pada hari Jumaat (28 Muharram 1420 H) di MasjidilHaram, dan dimakamkan di pemakaman al-‘Adl Makkah.

رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Mencintai Rasulullah S.A.W Melalui Sunnah.


سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

أَنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Maksudnya:

Segala puji bagi ALLAH, TUHAN semesta alam. Kepada-NYA kita memohon dan kepada-NYA jua kita meminta ampun. Kita memohon perlindungan kepada ALLAH dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh ALLAH, maka dia tidak akan mendapatkan kesesatan. Barangsiapa yang tersesat, maka tidak ada yang dapat memberikannya petunjuk kecuali hanya DIA. Saya bersaksi bahawa tidak ada TUHAN selain ALLAH yang Maha Esa. Saya bersaksi bahawasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-NYA.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada ALLAH dengan sebenar-benar taqwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam. - Aali-‘Imraan (3) :102

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Wahai sekalian manusia! Bertaqwalah kepada TUHAN kamu yang telah menjadikan kamu (bermula) dari diri yang satu (Adam), dan yang menjadikan daripada (Adam) itu pasangannya (isterinya - Hawa), dan juga yang membiakkan dari keduanya - zuriat keturunan - lelaki dan perempuan yang ramai. Dan bertaqwalah kepada ALLAH yang kamu selalu meminta dengan menyebut-nyebut nama-NYA, serta peliharalah hubungan (silaturrahim) kaum kerabat; kerana sesungguhnya ALLAH sentiasa memerhati (mengawas) kamu. - al-Nisaa’ (4) : 1

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Maksudnya:

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH, dan katakanlah perkataan yang tepat - benar (dalam segala perkara). Supaya DIA memberi taufiq dengan menjayakan amal-amal kamu, dan mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah) sesiapa yang taat kepada ALLAH dan Rasul-NYA, maka sesungguhnya dia telah berjaya mencapai sebesar-besar kejayaan. - al-Ahzaab (33) : 70-71

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Maksudnya:

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah kitabullah. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad s.a.w. Sedangkan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dan semua yang diada-adakan adalah bid’ah[1]. Semua yang bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat tempat kembalinya adalah neraka. - Hadis riwayat imam al-Nasa’i di dalam Sunannya, Kitab Sholat al-‘Iedaini, no: 1560[2].

Adapun tajuk yang saya pilih, “Mencintai Rasulullah Melalui Sunnah” adalah sebagai membuka mata kita,apakah ISLAM kita hari ini,ISLAM sebagaimana yang dibawa oelh Rasulullah S.A.W? Apakah kita peka dengan sunnah-sunnah Rasulullah S.A.W?Maka marilah kita bersama-sama bermuhasabah,pada pagi yang penuh keberkahan ini.

Sunnah,didefinisikan sebagai segala macam perbuatan(fi’il),perkataan(qaul) dan pengakuan (taqrir) Rasulullah S.A.W.Secara umumnya Hadith dan Sunnah adalah sama,namun hadith lebih menjurus kepada ucapan-ucapan Rasulullah S.A.W yang ditulis dan dikumpulkan.Sebahagian ulama’ telah membahagikan sunnah kepada dua,iaitu:

1)Sunnah ‘Amaliah

2)Sunnah Tarkiyyah

a)Sunnah ‘Amaliyah

Sunnah ‘amaliyah ialah segala macam perbuatan Nabi S.A.W yang dianjurkan kita mencontohi dan mengikutinya.Contohnya,menyimpan janggut,solat secara berjemaah,membersihkan mulut dan sebagainya.

b)Sunnah Tarkiyyah

Manakala Sunnah Tarkiyyah pula bermaksud apa sahaja yang ditinggalkan (tidak dilakukan) oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Baginda tidak pernah menyuruh atau menggalakkannya. Dengan perkataan lain, jika melakukan amalan (keagamaan) yang dilakukan oleh Nabi itu dilihat sebagai mengikut Sunnah, maka tidak melakukan perkara yang tidak dilakukan oleh Nabi itu juga dilihat sebagai mengikut Sunnah.

Sabda Nabi S.A.W:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

Maksudnya: “Antara ciri keelokan Islam seseorang ialah dia meninggalkan apa yang tidak perlu baginya”

Segala bentuk amalan keagamaan yang ditinggalkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallamShallallahu ‘alaihi wasallam akan melakukannya sebagai ikutan bagi umatnya. Tetapi bila sesuatu amalan itu tidak dilakukan oleh Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia menunjukkan bahawa amalan tersebut tidak perlu, dan meninggalkan perkara yang tidak perlu itu dilihat sebagai mengikut Sunnah, manakala melakukannya pula dilihat sebagai tidak mengikut Sunnah. adalah termasuk dalam jenis perkara yang tidak diperlukan oleh seseorang muslim, kerana jika ia perlu nescaya Baginda

Antara contoh Sunnah tarkiyyah yang telah sedia dihayati oleh umat Islam ialah tidak mendahulukan khutbah ke atas solat hari raya, tidak melaungkan azan dan iqamah untuk solat Hari Raya, solat al-istisqa’ dan solat jenazah, tidak melakukan solat sunat rawatib secara berjamaah dan tidak berdoa secara berjamaah sebelum solat fardu. Umat Islam tidak melakukan semua perkara itu kerana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukannya. Justeru, prinsip ikutan terhadap Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam[3] adalah sama ada dengan melakukan apa yang Baginda lakukan (dalam perkara keagamaan) atau meninggalkan (tidak melakukan) apa yang Baginda tinggalkan.

Mengapa kita perlu menghayati dan mengamalkan sunnah?

Firman ALLAH S.A.W :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan yang baik, iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredaan) Allah dan (balasan baik) hari akhirat, serta dia pula menyebut dan mengingati Allah banyak-banyak (dalam masa susah dan senang) (Surah al-Ahzab,ayat 21)

Dalam ayat ini ALLAH Tabaraka wa Ta’ala telah memerintahkan agar kita mengambil amalan agama kita daripada Rasulullah S.A.W,dan bukannya memandai-mandai dalam urusan agama.Selain itu,sunnah juga merupakan sumber hukum yang kedua dalam Islam.

Dalilnya Rasulullah S.A.W bersabda:

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما إن تمسكتم بهما، كتاب الله وسنتي.

Maksudnya: Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang kamu tidak sekali-kali akan sesat selama kamu berpegang dengan keduanya, iaitu Kitab Allah (Al-Quran) dan Sunnahku”-(Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatta’ No 1727.)

Sabda Nabi lagi,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد.

Maksudnya: “Sesiapa yang mengerjakan sesuatu amalan (ibadat) bukan mengikut (spesifikasi) cara kami, maka ia adalah tertolak”(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, No 1718)

Selain itu ALLAH S.WT juga menjanjikan kelebihan dan ganjaran bagi orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah S.A.W.Firman ALLAH S.W.T:

وَمَن يَقْنُتْ مِنكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُّؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا

Dan sesiapa di antara kamu semua tetap taat kepada Allah dan RasulNya serta mengerjakan amal yang soleh, Kami akan beri kepadanya pahala amalnya itu dua kali ganda dan Kami sediakan baginya limpah kurnia yang mulia.

Firman ALLAH lagi,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah (wahai Muhammad): Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

Dalam kedua-dua ayat Qur’an telah dijanjikan ganjaran yang besar,berupa keampunan dan kasih sayang ALLAH S.W.T,inilah yang menjadi pegangan Ahli Sunnah wal Jamaah.

Metod/Cara Mengamal dan Mengaplikasi Sunnah dalam Kehidupan.

Seringkali dalam kalangan masyarakat kita,berlaku kekeliruan dalam mengikuti sunnah,akibatnya berlakulah kejanggalan dan rasa ragu-ragu terhadap perkara-perkara sunnah.Dalam mengamalkan sunnah terdapat dua cara iaitu:

1) Ittiba’ Suri

2) Ittiba’ Hakiki

a)Ittiba’ Suri

Ittiba’ Suri bermaksud mengikuti sesuatu sunnah secara total atau keseluruhan tanpa membuat penambahbaikan atau perubahan terhadap sunnah tersebut.Misalnya,kaifiyat [4]ibadah,cara berpakaian,adab-adab dalam kehidupan dan sebagainya


b)Ittiba Hakiki

Ittiba’ Hakiki pula bermaksud mengadakan penambahbaikan terhadap sesuatu sunnahsesuai degan peredaran zaman.Misalnya menggantikan kayu Arak[5] dengan berus gigi untuk bersugi,menaiki kereta bagi menggantikan unta, dan sebagainya.[6]

Kegagalan memahami kedua-dua metod ini telah menyebabkan ada pihak yang membabi buta dalam mengamalkan sunnah.Terdapat segelintir masyarakat hari ini yang berkeras kepala dalam mengamalkan sunnah –sunnah dengan mengabaikan dua kaedah ini.Antaranya ialah:

1)Enggan memberus gigi menggunakan berus gigi dan ubat gigi,dengan alasan kayu arak lebih aula’ dan sunnah.Hakikatnya,sama sahaja penggunaan kedua-dua alat tersebut,iaitu bertujan bagi mewangikan dan membersihkan mulut.

2)Kes pelajar dibuang sekolah kerana memakai serban,wal hal serban merupak sunnah nabi yang lebih bersifat kepada keadaan bagiunda di tanah airnya yang panas,.

Dan banyak lagi perkara-perkara yang dibenarkan bagi kita meninggalkannya.
Kesimpulannya,kita haruslah memahami konsep ittiba’ Suri dan Ittiba’ Hakiki,serat dapat mengenal pasti sunnah-sunnah yang bersifat ‘Amaliyyah dan Tarkiyyah dalam mengamalkan sunnah.Kita juga perlu mempelajari dan mengamalkan sunnah Rasul,sebagagi isyarat bahawa kita mencintai Baginda dan apabila kita telah ada rasa cinta kepada Rasul,maka kita juga akan raa cinta kepada ALLAH.Semoga dengan adanya penjelasan tentang sunnah ini,kita akan lebih bersemangat untuk mempertahan dan mengamalkan sunnah.

*Bahan ini merupakan bahan edaran yang akan digunakan oleh tuan rumah pada kuliah subuh,27 hb ini,bertempat di surau al-Ikhwan,Kuantan.Pengunjung yang berkesempatan dijemput hadir
*Digalakkan menyebarkan edaran ini kepada kenalan,dan kaum kerabat anda.



[1] Ibadah baru yang diada-adakan dalam agama.

[2] Ucapan ini dikenali sebagai Khutbah Hajat.Salah satu sunnah dalam memulakan ucapan.

[3] Siapa Ahli Sunnah Sebenar,Dr Azwira Abdul Aziz ,mukasurat12-13

[4] Tatacara

[5] Kayu yang biasa dikenali dengan nama kayu sugi

[6]Rakaman Kuliah Maulana Asri,Ittiba’ Suri dan Ittiba Hakiki,Darul Kautsar, Kota Bharu

Ya,Memang aku Wahabi!/نَعَمْ أَنَا وَهَّابِيٌّ

Pada dua tiga hari lepas,ada blog yang mengcap ana sebagai WAHABI.Na'am,ana WAHABI!!!


نَعَمْ أَنَا وَهَّابِيٌّ




الكاتب: أبو بصير




رغم نفوري من المسميات المحدثة التي تفرق المسلمين ولا توحدهم .. إلا أني أعلنها صريحة واضحة ـ من غير تعصب ولا تحزب ـ بأني وهابيّ .. وممن يشرفهم حُبُّ الشيخ محمد بن عبد الوهاب ـ رحمه الله ـ وحُبُّ دعوته.



إذا كانت الوهابية تعني الدعوة إلى التوحيد .. والعقيدة الصحيحة .. ونبذ الشرك والبراءة منه ومن أهله .. كما كانت دعوة الشيخ .. نعم أنا وهَّابيّ!



إذا كانت الوهابية تعني الدعوة إلى الكتاب والسنة .. والتمسك بغرس وهدي وفهم السلف الصالح .. ونبذ التعصب المذهبي .. كما كانت دعوة الشيخ .. نعم أنا وهابيّ!



إذا كانت الوهابية تعني التمسك بالسنة الثابتة الصحيحة .. ونبذ البدع والخرافات .. كما كانت دعوة الشيخ .. نعم أنا وهابيّ!



إذا كانت الوهابية تعني جهاد الطواغيت الظالمين .. وجهاد الشرك والمشركين .. كما كانت دعوة الشيخ .. نعم أنا وهابيّ!



إذا كانت الوهابية تعني الوسطية .. من غير جنوحٍ إلى غلوٍّ ولا إرجاء .. كما كانت دعوة الشيخ .. نعم أنا وهابيّ!




لقد تأملت حال الناقمين الحاقدين على الشيخ ودعوته، فوجدتهم:



إما كافراً .. أو شيعياً رافضياً .. أو صوفياً مغالياً .. أو مبتدعاً ضالاً .. أو جاهلاً يكرر ما يسمع من دون أن يعلم شيئاً عن الشيخ وعن دعوته ..



وهذا طابور خبيث .. خاب وخسر من رضي لنفسه أن يقف فيه .. أو أن يكون من عداد أهله .. أو أن يكثر سوادهم في شيء!



ماذا ينقمون من الشيخ .. وما أكثر الناقمين في هذا الزمان .. فنحن منذ زمن نسمع من الأصناف التي ذُكرت أعلاه .. الشتم والتشهير والطعن .. بالشيخ ودعوته ـ حتى مضت كلمة وهابي ووهابية مسبة وانتقاصاً في عرف كثير من الناس! ـ من دون أن يأتوا ببرهانٍ صغير ثابت يبرر لهم كل هذا الظلم والطعن والشتم .. والحقد؟!



ها هي آثار الشيخ ومؤلفاته بين أيدينا .. سهلة المنال لمن يريدها .. كلها تنطق بالحق .. وتدعو إلى الحق .. وتأمر بالحق .. آتونا بنقيصةٍ واحدة معتبرة ـ إن كنتم صادقين ـ أُخذت على الشيخ .. وعلى دعوته .. تبرر لكم هذا الحقد والطعن والتشهير؟!




فإن لم تجدوا .. ولن تجدوا .. علمنا أن الذي حملكم على النقمة من الشيخ ودعوته .. هو ما كان عليه من حق لا يرضيكم ولا يرضي طواغيتكم وشياطينكم!



فإن قيل: أنظر إلى ظلم وأخطاء بعض من ينتسبون للشيخ ودعوته في هذا الزمان...؟



أقول: ما يُضير الشيخ ودعوته إذا وجد في زماننا ـ بزعم الانتساب إليه وإلى دعوته ـ من يسيء للشيخ ولدعوته .. فهم يُسيئون لأنفسهم لا لغيرهم .. فالمرء لا يجوز أن يُسأل أو يُحاسَب بجريرة غيره .. ولو جاز ذلك لما سلم رجل على وجه الأرض من المحاسبة والمؤاخذة؟






YA, AKU ADALAH WAHABI !


Oleh : Abu Basir




Sekalipun aku mengelak daripada jenama yang dicipta, yang telah memecahbelahkan kaum muslimin dan tidak menyatupadukan mereka, akan tetapi, secara jelas aku mengumumkan tanpa rasa ta’sub atau kecenderungan berpuak bahawa aku adalah WAHABI. Iaitu mereka yang dimuliakan dengan kecintaan kepada Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan kecintaan kepada seruan dakwah beliau.




Jika Wahabiah itu maknanya seruan kepada tauhid.. dan aqidah yang sahih.. serta menghapuskan syirik dan juga bebas daripada perbuatan dan golongannya.. seperti yang diseru oleh Syeikh,


Ya, aku adalah WAHABI...!




Jika Wahabiah itu maknanya seruan kepada al-Kitab dan al-Sunnah..serta berpegang teguh dengan cara, petunjuk dan pemahaman Salafus Soleh.. dan menghapuskan kefanatikan mazhab.. seperti yang diseru oleh Syeikh,


Ya, aku adalah WAHABI...!




Jika Wahabiah itu maknanya berpegang kepada sunnah yang tsabit lagi sahih.. serta menghapuskan bid’ah dan khurafat.. seperti yang diseru oleh Syeikh,


Ya, aku adalah WAHABI...!




Jika Wahabiah itu maknanya berjihad memerangi taghut yang zalim.. juga jihad memerangi syirik dan orang musyrikin.. seperti yang diseru oleh Syeikh,


Ya, aku adalah WAHABI...!




Jika Wahabiah itu maknanya jalan pertengahan.. tanpa condong kepada sikap melampau dan berserah.. seperti yang diseru oleh Syeikh,


Ya, aku adalah WAHABI...!








Telah ku teliti keadaan mereka yang mengkritik secara penuh kedengkian terhadap Syeikh dan seruan dakwahnya, lalu ku dapati mereka itu ;




Samada kafir.. ataupun syiah rafidhah.. ataupun ahli sufi yang melampau.. ataupun ahli bid’ah yang sesat.. ataupun mereka yang jahil.. yang mengulang-ulang apa yang mereka dengari tanpa mereka mengenali siapakah Syeikh dan seruan dakwahnya itu.




Inilah barisan yang buruk.. amat malang dan rugi bagi mereka yang merelakan diri mereka berdiri bersama barisan ini.. ataupun menjadi pesertanya.. ataupun menambahramai bilangannya.




Apakah yang mereka dendamkan terhadap Syeikh.. Alangkah ramainya sekali golongan pendendam pada zaman ini.. Kita telahpun mendengarnya sejak dari dulu lagi akan dendam golongan ini.. kata nista dan cacian serta tohmahan.. terhadap Syeikh dan seruan dakwahnya - sehingga kalimah Wahabi itu menjadi kata nista dan jelik pada kebanyakan masyarakat! - tanpa ditunjangi kepada hujah (sekalipun yang kecil) yang membenarkan golongan ini mengenai kezaliman, tohmahan dan hinaan serta dendam mereka...?!




Nah, inilah dia peninggalan Syeikh dan karya-karyanya berada di tangan kita..! mudah untuk didapati bagi yang berkehendakkannya.. semuanya berbicara dengan Haq.. menyeru kepada yang Haq.. menyuruh dengan Haq.. Datangkanlah kepada kami satu kekurangan ( yang benar-benar salah ) - jika kalian adalah golongan yang benar - untuk diadili Syeikh.. dan diadili juga seruan dakwahnya.. yang sudah tentu akan membenarkan segala dendam, nista dan tohmahan kalian...?!




Jika kalian tidak menjumpainya.. dan sememangnya kalian tidak akan menemukannya.. kami telah mengetahui, bahawa, apakah sebenarnya yang menjadikan kalian mendendami Syeikh dan seruan dakwahnya.. iaitu kerana berdirinya Syeikh di atas kebenaran amat tidak menyenangkan kalian dan juga syaitan-syaitan kalian.




Jika dikatakan : Lihatlah kepada kezaliman dan kesalahan mereka yang menisbahkan diri mereka terhadap Syeikh dan seruan dakwahnya pada zaman ini...?




Aku katakan : Tidak terjejas sama sekali Syeikh dan seruan dakwahnya dengan wujudnya golongan ini pada zaman ini - yang mendakwa mereka adalah pengikut Syeikh dan seruan dakwahnya - kerana mereka melakukan kesalahan yang dihasilkan oleh diri mereka sendiri dan bukannya kesalahan orang lain.. Sesungguhnya seseorang itu tidak boleh disoal dan dihisab dengan sebab kesalahan orang lain.. jika ianya dibolehkan, maka, tiada siapa pun yang akan selamat di muka bumi ini daripada dakwaan orang lain...?

selingan:

*Jazakallahu Khairan Kathira kepada abang angkatku yang sudi menterjemahkan artikel ini....

Makluman: Blog-blog Anti Ahbash tiada kaitan dengan AAN


Makluman: Blog-blog Anti Ahbash tiada kaitan dengan AAN

1. Pihak al-ahkam.net (AAN) ingin memaklumkan bahawa segala blog anti Ahbash tiada kaitan sama sekali dengan AAN.

2. Pihak AAN mencela dan mengutuk blog berikut atas tindakan mereka mengkafir kumpulan Ahbash dan mencela mereka dengan cara yang tidak berakhlak:

i. http://takfirahbash.blogspot.com yang meletakkan gambar babi yang tertera tulisan "wajah ahbash pengkafir!!!" serta mengkafirkan golongan ahbash dengan perkataan: "Maka kini kami pula hendak mengatakan bahawa KALIAN TELAH KAFIR DENGAN KATA-KATA KALIAN WAHAI KUMPULAN AHBASY".

ii. Blog http://anti-ahbasy.blogspot.com/ yang meletakkan gambar kambing hitam yang tertera tulisan: JAIS

iii. Blog http://ahbash-sesat.blogspot.com/ yang menulis seperti berikut: "Kalau sudah sekalipun, sudah tentu kalian semua telah menutup hati-hati kalian serta sombong dan taksub terhadap pengasas kalian Abdullah Al-Harary. Bahkan, kalian sudah tergugat dengan banyaknya fatwa-fatwa ulama tentang kekafiran Ahbash"

3. Pihak AAN meragui siapa di belakang blog-blog di atas. Kita yakin ia bukan dibangunkan oleh golongan Sunnah.

4. Nasihat kami kepada semua, berhati-hatilah dengan blog-blog yang mempunyai ciri-ciri antaranya ialah:

i. Mengkafirkan sesama Islam

ii. Mencerca peribadi seseorang

iii. Kata-kata kesat

Yang pasti, blog yang mempunyai ciri-ciri di atas adalah blog anti sunnah/salafi. Berkemungkinan ia dibangunkan oleh golongan Ahbash.

5. Pihak AAN berpendirian tidak mengkafirkan golongan Ahbash apatah lagi golongan Asya'irah. Yang menjadi fokus AAN terhadap kumpulan Ahbash ialah sikap ghuluw mereka terhadap syeikh mereka dan sikap mereka yang gemar mengkafirkan sesama Islam yang berlainan aliran.

Sekian

Harap Maklum

zain-ys (www.al-ahkam.net)

Pihak AAN mencela perbuatan blog ini:

Blog ni pun sama...tak ada kaitannya dengan blog-blog yang ghuluw macam tu...
Muncul Kembali !!!!

Blog memfitnah orang
Blog menyesatkan orang
Blog mencaci maki orang
Blog mengkafirkan orang






Berhati-hati dengan blog ini !!!

AWAS...Jangan Sampai Terjebak
AHBASH....Virus Perosak Ummah

Ancaman Kafir-mengkafir

Dunia Islam tidak pernah sunyi dari gangguan golongan-golongan yang menyeleweng dari jalan yang lurus iaitu ahli sunnah wal jamaah. Sesungguhnya sejarah telah membuktikan perkara ini. Maka munculnya golongan seperti syiah rafidhah, khawarij, Murjiah, Muktazilah, Jabariyah, Jahmiyah dan selainnya yang merosakkan pegangan aqidah yang benar. Walaupun sebahagian daripada golongan yang disebutkan namanya hanya tinggal sejarah dan telah pun lenyap di telan zaman, tetapi hakikat yang terpaksa kita akur ialah pemikiran golongan-golongan ini masih wujud pada zaman ini hasil daripada saki-baki pengikut golongan tersebut yang menyebarkan fahaman mereka sehinggalah ke hari ini. Cuma yang sedihnya mereka menyebarkan pemikiran dan ajaran yang menyeleweng ini dengan berselindung di sebalik nama ahli sunnah wal jamaah supaya kesesatan mereka tidak dapat dihidu oleh masyarakat umumnya.

Diriwayatkan oleh al-Darimi bahawasanya Abdullah bin Mas’ud r.h. berkata: “Suatu hari Rasulullah s.a.w. membuat satu garisan (yang lurus) lalu baginda bersabda Ini ialah jalan Allah. Kemudian baginda menambah garisan-garisan di sebelah kanan dan kirinya (garisan lurus tersebut) lalu baginda bersabda ini ialah jalan-jalan dan di setiap jalan-jalan tersebut ada syaitan yang memanggil-manggil kepadanya, kemudian nabi membaca ayat al-quran surah al-An’am ayat 153 yang bermaksud: “dan bahawa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikut jalan-jalan (yang lain) kerana jalan itu memecah belahkan kamu dari jalanNya”.

Fokus artikel ini ialah menjelaskan kepada masyarakat sebuah kumpulan yang sudah mula bertapak di Negara ini dan sangat giat menyebarkan fahaman mereka di dalam masyarakat. Kumpulan ini ialah sebuah Jemaah Takfir yang dinamakan oleh mereka sendiri sebagai Al-Ahbash. Kumpulan ini telah lama muncul tetapi ianya baru memasuki Negara kita sejak kebelakangan ini melalui pelajar-pelajar yang melanjutkan pelajaran di timur tengah khususnya di Lubnan dan disbarkan melalui blog-blog mereka di dalam internet. Maka umat Islam Malaysia harus peka dan berwaspada dengan perkembangan ini serta mesti mengenali ciri-ciri Jemaah Takfir ini supaya tidak terjebak ke dalamnya.

Kumpulan ini telah pun disebut di dalam kitab al-Mausu’ah al-Muyassarah fi Adyan wal Mazahib wal Ahzab al-Mu’asirah iaitu sebuah ensiklopedia yang menceritakan tentang agama, mazhab dan kumpulan-kumpulan yang muncul di dalam Islam. Disebut bahawa Al-Ahbash merupakan sebuah kumpulan yang sesat yang diambil namanya bersempena gelaran yang diberikan kepada guru mereka Abdullah al-Harari al-Habasyi. Kumpulan ini yang muncul di Lubnan dengan menggunakan peluang yang ada ketika keadaan huru-hara yang berlaku di Negara itu disebabkan perang saudara. Apabila berlakunya perang saudara ini menyebabkan masyarakatnya berada di dalam keadaan kejahilan dan kefakiran. Dan ketika itulah kumpulan Ahbash ini mengambil peluang untuk menyebarkan ajaran mereka melalui metodologi ahli kalam, amalan kesufian dan kebatinan bertujuan merosakkan aqidah dan memecah belahkan kesatuan umat islam.

Abdullah al-Harari dikenali sebagai “al-Fattan” pembawa fitnah, juga dikenali sebagai “Syeikhul Fitnah” iaitu orang yang suka membawa fitnah. Ini disebabkan tindakan Abdullah al-Harari ini yang bersekongkol dengan kerajaan kafir Hilasilasi di lubnan pada ketika itu yang akhirnya menyebabkan ramainya para ulamak dan pendakwah yang melarikan diri ke Mesir dan Saudi untuk menyelamatkan diri dari fitnah tersebut. Sesungguhnya kumpulan Ahbash ini membawa fahaman yang menyeleweng dari mazhab ahli sunnah wal Jamaah. Antaranya mereka berfahaman Jahmiyyah iaitu kumpulan yang menafikan sifat Allah Ta’ala, membawa fahaman Murjiah, Jabariah dan Rafidhah atau syiah. Mereka mencela para sahabat Nabi dan menuduh Ummul Mukminin Aisyah r.ha telah bermaksiat kepada Allah disamping fatwa-fatwa mereka yang pelik.
Akhirnya Abdullah al-Harari berjaya mengumpulkan pengikut-pengikut yang taksub dimana mereka tidak mengiktiraf keislaman seseorang kecuali kepada mereka yang tunduk dan mengakui aqidah yang dibawa oleh Syeikh mereka Abdullah al-Harari sahaja. Sedangkan aqidah yang dibawa oleh Abdullah al-Harari ini menyeleweng dari aqidah ahli sunnah wal jamaah. Pengikut-pengikut yang taksub ini memaksa orang ramai mempelajari aqidah al-Habasyiah dengan mengetuk-ngetuk pintu rumah dan menyebarkan buku-buku syeikh mereka secara percuma.

Di antara tokoh Ahbash ini ialah Nizar al-Halabi yang digelarkan oleh mereka sebagai “Samahatu al-Syeikh” iaitu gelaran bagi seorang mufti. Pengikut-pengikut yang taksub ini menconteng di dinding-dinding jalan slogan “Katakan tidak kepada Hassan Khalid (mufti lubnan) yang Kafir, dan katakan ya kepada mufti Nizar al-Halabi”. Mufti Hassan Khalid ini telah dibunuh oleh kumpulan Ahbash ini. Dan akhirnya Nizar al-Halabi ini juga mati dibunuh kerana fatwa-fatwa sesat yang dikeluarkan olehnya. Begitulah akhlak buruk pengikut-pengikutnya yang diajarkan oleh guru mereka al-Harari iaitu amat mudah melemparkan tuduhan kafir kepada sesiapa sahaja yang tidak bersetuju dengan kumpulan mereka.
Aqidah dan ajaran yang dianuti

• Ahbash mendakwa mereka bermazhab dengan mazhab al-Syafi’e di dalam fiqh dan juga aqidah, sedangkan pada hakikatnya mazhab mereka amat jauh dari mazhab Imam al-Syafi’e. Mereka secara semberono mentakwil sifat-sifat Allah Ta’ala tanpa berpandukan kepada kaedah yang betul, contohnya mentakwil iaitu mengubah sifat Allah Ta’ala Istiwa’ kepada Istila’ iaitu berkuasa seperti yang dilakukan oleh mazhab Muktazilah dan Jahmiyyah.

• Al-Harari Al-Habasyi mendakwa al-Quran merupakan lafaz Jibril, maka Al-Quran itu bukanlah kalamullah sepertimana aqidah ahli sunnah wal jamaah. Ini boleh dilihat di dalam kitab yang ditulis oleh al-Harari sendiri Izdharul Aqidati al-Sunniyyah:ms. 51.

• Ahbash di dalam masalah yang berkaitan dengan iman seperti Murjiah dan Jahmiyyah iaitu memisahkan di antara iman dan amal. Amalan seseorang tidak ada kena mengena dengan iman. Maka seorang itu dikira beriman di sisi mereka walaupun meninggalkan solat dan juga rukun-rukun islam yang lainnya. Ini bercanggah dengan aqidah ahi sunnah wal jamaah yang menyatakan islam itu ialah iman dan amal. Sila lihat buku al-Harari al-Dalil al-Qawim: ms. 7 dan kitabnya Bughyatu al-Tolib: ms.51

• Al-Harari berkata: “Sesiapa yang tidak berhukum dengan syariat Allah di dalam dirinya, tidak melaksanakan kefardhuan yang telah ditetapkan oleh Allah, Tidak menjauhkan diri dari kemaksiatan (melakukan kemaksiatan), tetapi di dalam seumur hidupnya dia pernah mengucapkan “La ilaha illallah” walaupun sekali, dia merupakan seorang islam yang beriman. Juga disebutkan sebagai orang yang beriman yang berdosa. Rujuk al-Dalil al-Qawim: ms. 9-10 dan Bughyatu al-Tolib: ms. 51.

• Ahbash di dalam masalah al-Qadr merupakan Jabariyyah. Mereka mendakwa bahawa Allah lah yang menolong seorang kafir di atas kekufurannya, kalau tidak kerana Allah maka tidaklah seorang kafir itu menjadi kafir. Lihat kitabnya al-Nahju al-Salim: ms. 71

• Ahbash menggalakkan supaya pergi ke kubur dan memohon hajat dan pertolongan kepada ahli kubur. Ini kerana menurut dakwaan mereka ahli kubur akan keluar dari kubur-kubur mereka untuk menunaikan hajat orang yang memohon kepada mereka kemudian kembali ke kubur semula. Begitu juga mereka membenarkan memohon perlindungan dari selain Allah. Lihat al-Dalil al-Qawim: ms. 173, Bughyatu al-Tolib: ms. 8 dan Sorih al-Bayan: ms. 57, 62.

• Ahbash mensahihkan hadis-hadis yang lemah dan palsu yang menyokong mazhabnya dan sebaliknya melemahkan sesuatu hadis sekiranya bercanggah dengan mazhabnya. Boleh dilihat dengan jelas di dalam kitabnya al-Maulid al-Nabawi.
• Al-Harari banyak mencela para sahabat terutamanya Muawiyyah bin Abi Sufian r.h, ummul Mukminin Aisyah r.ha. mengutuk Khalid bin al-Walid dan sahabat yang lainnya. Dia juga berkata sesiapa yang tidak bersama pemerintahan Ali mati dalam keadaan Jahiliyyah.

• Al-Harari mengkafirkan sekian ramai para ulamak, maka dia menghukum Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagai kafir dan menjadikan kewajipan pertama bagi setiap mukallaf mengiktiraf kekufurannya. Begitu juga Imam al-Zahabi disisinya seorang yang keji. Mengkafirkan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani, Syeikh Sayyid Sabiq, Sayyid Qutub, Syeikh al-Qaradhawi, Syeikh Said Ramadhan al-Buti dan ulamak yang lainnya. Tetapi Ibn Arabi seorang yang sepakat ulamak mengatakan kufurnya fahaman yang dibawa iaitu wahdatul wujud, aqidah hulul dan sebagainya, al-Harari mengatakannya sebagai Syeikhul Islam.

• Antara fatwa-fatwa al-Harari al-Habasyi di dalam feqh yang pelik ialah seperti bolehnya melihat kepada wanita ajnabiah (tidak menundukkan pandangan), ihktilat (percampuran lelaki dan wanita), boleh bersalam-salaman antara wanita ajnabiah, wanita boleh keluar rumah dalam keadaan tabarruj dan memakai wangi-wangian walaupun tanpa keizinan dan keredhaan suami. boleh berjual-beli anak yang merdeka, bolehnya memakan hasil riba’ dan bolehnya bersolat dengan pakaian yang bernajis. Lihat Bughyatu al-Tolib: ms. 99.

Maka dari apa yang telah disebutkan di atas maka ciri-ciri kumpulan Ahbash ini boleh disimpulkan seperti berikut:

 Bermazhab dengan Mazhab al-Asy’ari yang terkemudian di dalam masalah sifat-sifat Allah yang lebih menghampiri mazhab Jahmiyyah

 Bermazhab Murjiah dan Jahmiyyah di dalam masalah iman

 Berpegang dengan tarekat kesufian yang menyeleweng seperti tarekat al-Rifa’ie dan Naqsyabandiah dan juga aqidah golongan al-batiniyyah.

 Mengkafirkan para ulamak dan umat islam umumnya yang tidak sehaluan dengan mereka.

 Mensahihkan hadis yang lemah atau palsu berdasarkan apa yang selari dengan kumpulan mereka dan melemahkan sebuah hadis yang sahih sekiranya bercanggah dengan kumpulannya.

 Mengaburi masyarakat dengan gelaran ulamak hadis dan sebagainya yang mereka berikan kepada guru mereka al-Harari seperti Al-Allamah al-Muhaddis

Antara kitab-kitab yang ditulis oleh Abdullah al-Harari yang disebarkan di Malaysia termasuk di perpustakaan-perpustakaan Universiti tempatan seperti:

• Al-Maqalat al-Sunniyyah fi Kasyfi Dhalalat Ibn Taimiyyah
• Al-Ta’qib al-Hasis
• Al-Nahju al-Sawi fi Raddi ‘ala Sayyid Qutub
• Al-Dalil al-Qawim ‘ala Sirat al-Mustaqim
• Bughyatu al-Tolib fi Makrifati ilmi al-Din al-Wajib
• Izhar al-Aqidah al-Sunniyyah syarh al-Aqidah al-Thohawiyyah
• Kitab al-Maulid al-Nabawiy
• Sorih al-Bayan
• Al-Taufiq al-Rabbani fi Raddi ‘ala Ibn Taimiyyah al-Harrani

http://www.abusyuaib.com